Perjalanan Ustadz Ammar Mushawwir dalam Membersamai Al-Qur'an

September 25, 2020


Bismillah, Ummahaat yang dirahmati Allah.... In syaa Allah ada page terbaru di ummiland. Nama pagenya Guest Post. Berisikan profil atau pengalaman seseorang yang ditulis sendiri (penulis tamu) atau dari hasil wawancara saya dengan sosok tersebut. Sebelumnya ada beberapa tulisan wawancara yang akan saya gabungkan juga dengan page ini. Biar blog ini makin kaya dengan orang-orang shalih dan banyak membawa kebermanfaatan. 

Nah, kali ini saya akan memposting tulisan Ustadz Ammar Mushawwir Al-Hafizh. Beliau adalah Guru Qur'an saya. Mulai dari Fashohatul Lisan, Tadarus, hingga Muraja'ah. Pengennya sih sampe level Ziyadah, tapi belum berani, hehe. Alhamdulillah Maasyaa Allah, belajar dengan beliau duh asli malu karena masih banyak yang harus saya perbaiki. Next, in syaa Allah saya mau nulis tentang pengalaman saya belajar Fashohatul Lisan (FL), karena manfaatnya besar banget buat saya. Eh maafkan ya, ini bahasa rada formal dikit. Maklum, ada tulisan Ustadz :D jadi harus jaga adab, hehe.

Tulisan berikut beliau posting di Grup Dauroh Muroja'ah Kita (DMK) pas penutupan Dauroh.... Kalau inget DMK jadi pengen ngumpet, karena saya banyak bolosnya, "Afwan Ustadz...." Syukron Jazaakumullah khair Ustadz Ammar dan Teh Rinda (Admin DMK) yang udah kasih ijin saya memposting tulisan ini. Semoga semua kebaikan ini dapat dirasakan oleh banyak orang, aamiin. Yuk disimak!


PROFIL NARASUMBER

Nama : Muhammad Ammar Mushawwir

Asal : Makassar

Domisili : jl. Somawinata, Tanimulya, Ngamprah, Kab. Bandung Barat

Akun IG : @ammar_mushawwir

Aktivitas : Belajar Alquran


Bismillah Alhamdulillah washolatu wassalamu 'ala nabiyyina muhammad

Awal mula menghafal Al-Qur'an, sebetulnya saya lahir dari keluarga sederhana. Mungkin waktu kecil seperti anak-anak pada umumnya... bermain, berpetualang, ngejar layangan, main ke hutan, main ke kali... ya seperti pada umumnya anak-anak. 

Kemudian mulai masuk pondok ketika SMA, mulai menghafal di Malino, Sulawesi. Di sana saya mulai menghafal dan hanya sekedar hafalan saja dan cuma dapat beberapa hafalan saja. Karena memang di sana belum fokus hafalan...

Kemudian saya merantau ke Jogja, lalu di sana dapat teman baru dari Ma'had Ali Al-Madinah. Pondoknya sederhana, program-programnya sederhana. Hanya program umumnya di Indonesia. Program-program menghafal selama 2 tahun. Alhamdulillah selesai setoran tapi belum bisa diperbaiki  dari segi bacaan dan dari segi keistiqomahan. Karena memang di sana selain menghafal kita ditugaskan untuk selalu belajar, selalu berdakwah. Karena di sana memang pondok masyarakat, yang mana kita memang langsung terjun ke masyarakat. Pondok tahfidz yang langsung berkecimpung dengan kegiatan-kegiatan dakwah yang lain.

Setelah dari Jogja saya merasa pengen meng-upgrade diri lagi dari segi keilmuan tentang Al-Qur'an.... Alhamdulillah Allah tunjukkan satu tempat di Bandung... di Indonesian Al Quran Center (IAC) yang langsung diketuai oleh Syaikh khanova Maulana, Lc. Al Hafidz. Di sana saya ikut program KTQ 6 bulan, dan alhamdulillah di sana selesai juga seluruh hafalan. 

Setelah dari situ, banyak yang bisa saya dapatkan. Terlebih yaitu tentang pembelajaran pembacaan Al-Qur'an, tentang gimana periwayatan Al-Qur'an, gimana pembelajaran tajwid & tahsin Al-Qur'an. Alhamdulillah Allah berikan saya kesempatan untuk terus meng-upgrade diri di bidang pembelajaran tahsin atau tajwid.

Setelah menyelesaikan hafalan Qur'an, setiap orang yang menyelesaikannya pasti akan merasakan kebahagiaan dalam dirinya. Bahkan juga dirasakan oleh keluarganya dan saudara-saudaranya. Tapi tahukah kita? Setelah menyelesaikan hafalan Qur'an tersebut, ternyata ada amanah yang besar yang kita pikul... bahkan sampai gunung pun ketika diamanahkan, gunung itu tidak mampu memikulnya. Jadi tentang amanah Al-Qur'an, tentang penjagaan Al-Qur'an...


Kami pun juga... saya dan kita semua... adalah orang biasa yang masih sama-sama berjuang dalam Murajaah Al-Qur'an... Memang dalam muraja'ah pasti ada kendala, ada aja... macam-macam... pasti ada tantangan... bagi seorang penghafal Al-Qur'an. Ketika ada kendala dalam menghafal/murajaah, bukan berarti kita menyesali... bukan berarti kita menyikapi dengan sikap negatif... Bahkan kita harus memandang sebagai tantangan, sebagai sebuah proses... sebagai sebuah pendewasaan ttg Al-Qur'an, tentang hafalan kita... Itulah sunnatullah yang tidak bisa dipisahkan.... Saya terus mengingatkan untuk saya pribadi dan teman-teman yang lain.... 


Dan mohon do'anya untuk kami juga kita smua agar diberikan keistiqomahan dalam murajaah hafalan Al-Qur'an tersebut.



Insyaa Allah hal itu akan terus membakar semangat kita untuk selalu menambah bahkan selalu mengulang ayat Al-Quran.

***

Hm.... Tulisan yang patut direnungi, dihayati, diresapi, dan ditangisi T_T 

Maasyaa Allah.... Ternyata perjalanan Ustadz cukup panjang. Beliau masih muda dan menghabiskan masa mudanya bersama Qur'an. Jadi teringat beberapa tahun silam yang sudah saya sia-siakan. Bahkan sekarang pun masih melalaikan diri. Saya masih jauh dari Al-Qur'an.. Yaa Rabb, jadikan hamba Shohibul Qur'an....

***



Intermezo

Setelah tulisan beliau saya rapikan, kok ya sayang nggak sekalian nanya. Ada 2 pertanyaan yang  saya ajukan melalui Teh Rinda:

Tanya: Afwan Ustadz, untuk mengahafal saya lebih mudah ingat kalau dengar murrotal Qori. Sejauh ini dengar Muzamil.. Tapi efeknya kebawa iramanya. Kadang jadi nggak fokus di makhrojnya, karena kan sesuai yang didengar. Pas dicek di Qur'an hurufnya ternyata belum tepat. Kadang pas udah dibenerin eh lupa lagi. Di sisi lain, kalau ngafalin pakai irama sendiri, lama hafalnya. Baiknya gimana ya Ustadz?

Jawab: Menghafal dengan irama memang ada baiknya. Cuman kalau ternyata menghafal dengan irama itu mengganggu makhroj mengganggu tajwid, maka lebih baik ditinggalkan. Karena yang diutamakan adalah menghafal dengan bacaan yang terbaik. Huruf, tajwid, semuanya terbaca dengan benar. Karena kadang mengikuti irama itu ada orang yang dia mungkin iramanya dapat, cuman dia masih keliru  di sisi huruf atau tajwid, misalnya madnya terlalu panjang atau hurufnya masih belum sempurna. Maka saran saya, menghafal utamakan dengan menggunakan tajwid dan yang baik.

Tanya: Mau Tips menghafal untuk pemula Ustadz.

Jawab: Menghafal untuk pemula yang pertama, usahakan menghafal dari belakang dari juz 30 dari An-Naas sampai ke depan. Kalau misalkan belum bisa banyak-banyak menghafal, 3 atau 5 ayat dulu aja sehari. Intinya menghafal sedikit-sedikit jangan langsung banyak. Utamakan dalam menghafal itu dengan banyak pengulangan. Misalkan 1 ayat diulang sampai 20 kali atau 30 kali. Begitu seterusnya.

***

Habis ini nunjuk diri trus nanya, "Jadi setelah ini bagaimana?"

You Might Also Like

0 Comments