Chapter #1: Bagaimana Mereka Belajar?

October 03, 2020

Catatan Kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Materi Pembuka Kitab Tadzkiratus Saami Wal Mutakaliim Fii Adabil'Alim Wal Muta'alim, karya Ibnul Jama'ah.


Bismillahirrahmanirrahim....

Banyak orang dapat hidayah, berhijrah, melangkahkan kakinya ke rumah-rumah Allah. Tapi banyak yang nggak tahu bagaimana para ulama-ulama terdahulu belajar. Padahal kunci sukses kita di dalam dunia ilmu adalah mengikuti metode belajarnya para ulama. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ada 2 kelompok yang selalu tamak dan nggak pernah merasa kenyang, yaitu penuntut ilmu dan penuntut dunia. Begitulah para ulama belajar, hasrat mereka, passion mereka, itu seperti ahli dunia mengejar dunia.

Penuntut ilmu itu nggak puas belajar hanya dari medsos, dari streaming, dari radio. Pengennya dengerin langsung. Semakin besar effort, semakin besar pahalanya. Sekarang kita sedang berada di masa ilmu sedang di buka oleh Allah. Djabir untuk ketemu Abdillah, untuk mendapatkan 1 hadist membutuhkan perjalanan selama 1 bulan. Sementara kita untuk mendapatkan 1 buku hadist, harus jalan berapa lama? Modal jempol aja. Nggak ada pulsa, cari wifi gratis, hehe.

Ulama untuk menuntut ilmu menjual berbagai benda agar bisa pergi kajian. Kalau kita, banyak udzur syar’inya. Para ulama kudu ngejualin genteng, ember, rumah, butuh modal. Sementara kita nggak. Tapi kualitas mereka jauh di atas kita. Kenapa kualitas iman mereka luar biasa dan kita nggak bisa ngejar mereka. Harusnya kualitas orang yang menggunakan jempol dalam mengumpulkan hadist itu lebih berkualitas ketimbang orang yang harus jalan kaki, karena lebih cepat. Kata ulama pengisi kajian di Madinah, rahasianya adalah di keberkahannya. Keberkahan ilmu. 1 hadist tapi berkah lebih baik dari pada ribuan hadist tapi kurang berkah. Yang harus diincar para penuntut ilmu bukan hanya mencari ilmu tapi juga mencari keberkahan ilmu. Bukan sekedar ilmu yang banyak tapi ilmu yang bermanfaat & berkah.

Kita harus bersungguh-sungguh dan susah payah dalam menuntut ilmu. Karena ketika semakin sulit dalam menuntut ilmu maka ilmu itu akan semakin bernilai. Misal ada seorang anak kecil, dia mendapatkan uang 50.000 dari hasil jerih payahnya sendiri, akan berbeda nilai atau rasanya jika dibandingkan dengan anak yang mendapatkan uang dari kartu kredit yang diberikan oleh orang tuanya. 50.000 tidak akan bernilai jika didapatkan dengan cara yang mudah.

Karena dunia memang harus dikejar, bagaimana dengan akhirat? Nggak masuk akal kalau mengejar dunia nggak ada usahanya, lalu bagaimana dengan akhirat.... Akhirat itu lebih baik lebih kekal, jika untuk yang fana aja harus kerja keras lalu bagaimana untuk mendapatkan yang kekal. Mungkinkah hanya dengan mengandalkan khutbah Jum’at? Nggak mungkin, itupun cuma 20%, sisanya tidur. :D Gimana mau masuk surga. Jika untuk cumlaude belajar mati-matian, gagal coba lagi gagal coba lagi, gimana dengan akhirat? Ketahuilah... yang Allah tawarkan itu surga. Mungkinkah segampang itu? Kalau dunia mati-matian, habis-habisan, kenapa akhirat nggak bisa habis-habisan?

Surga itu mahal.... Kalau surga itu murah, Nabi nggak perlu hijrah dari Mekkah ke Madinah. Kalau surga itu murah, nggak ada penyiksaan kepada Bilal. Kalau surga itu murah nggak ada air mata di keluarga Ammar, Yassir, Sumayyah. Lalu mungkinkah kita, yang bukan sahabat, nama-nama yang direkomendasikan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam bisa masuk surga? Pintu gerbangnya adalah belajar, belajar, belajar. Karena Imam Ali mengatakan, “ilmu dulu sebelum beramal.” Berarti kita harus belajar, belajar, dan belajar.

Bagaimana Mereka Belajar?

Mereka belajar dengan sungguh-sungguh. 

  • Mereka nggak cari panggung, mereka nggak ingin tampil. Tapi yang diincar ilmu, makanya berkah. Dan Imam Syafi’i mengatakan bahwa ilmu tidak bisa didapat dari uang yang banyak, dari networking, dsb. Tapi bisa didapat dari kerendahan hati. Merendahkan hati bahkan dirinya tapi dihadapan Allah dan firman-firman-Nya. 
  • Dan dari kehidupan yang sempit. Tapi bukan miskin, tapi karena saking bersemangatnya belajar, dia nggak sempat menikmati uangnya sendiri, menikmati fasilitas yang dia miliki. Nggak sempat bersenang-senang. 
  • Sebenarnya ketika kita datang ke majelis ilmu, filosofinya adalah kita tawadhu kepada Allah. Kenapa? Karena hanya dengan itu kita akan sukses. Malu, minder, sombong, nggak akan bikin sukses.

Mereka belajar perlahan-lahan, bertahap. Allah swt berfirman dalam surat Ali-Imran: 29. Allah perintahkan kita menjadi orang Robbani. Apa itu robbani, Abdullah bin Abbas menjelaskan “robbani adalah orang-orang yang mengajarkan atau mempelajari ilmu secara bertahap mulai dari hal-hal basic, sederhana, pondasi, sebelum perkara-perkara besar/pelik.” Karena di bidang apapun, kalau kita nggak menguasai basic, habis kita. Dan sebagian para ulama menggunakan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, tentang masalah kelembutan. “Sesungguhnya kelemah lembutan ketika berada di suatu kondisi, itu akan menghiasi kondisi itu.” Dalam dunia ilmu kita butuh kelembutan, maksudnya step by step, selangkah demi selangkah, sedikit demi sedikit dalam belajar. Dan sebaliknya bisa dikatakan kasar dalam belajar. Lembut dalam belajar itu bertahap, nggak bisa semuanya. Al-Imam Asy-Sya’bi mengatakan, “Barang siapa yang mau mempelajari ilmu sekaligus dan mau instan, semua secara banyak yang berdekatan, maka akan hilang dalam waktu yang singkat. Karena ilmu hanya bisa dipelajari dengan jalannya siang dan malam.” Pelan-pelan, satu-satu. Mendengar dari semua pihak ketika kita belajar ilmu, itu rentan gagal dalam pemahaman.

Dalam ushul fiqih antum nggak dianjurkan bertanya ke semua alim untuk menemukan jawaban dari suatu masalah. Kewajibannya antum adalah bertanya kepada ahli ilmu, begitu dapat ya sudah. Karena itulah metode para ulama. Ketika orang-orang kafir bertanya, kenapa Al-Qur’an nggak diturunkan sekaligus dari Al-Fatihah sampai An-Nas? Padahal Allah mampu menurunkan semuanya sekaligus. Metode turunnya Al-Qur’an secara bertahap, begitulah metode Allah, "cara Kami mengokohkan hatimu wahai Muhammad," (Al-Furqon: 32). Jadi hati Nabi dikokohkan oleh Allah secara bertahap. Ayat turun lalu ada jeda, selama 32 tahun demikian, baru kuat. Baca buku langsung pengen BAB 6, padahal BAB 1 belum dibaca. (Duh tadz, saya banget ini. Dulu tapi, hehe).

Salah satu ilmu yang harus kita prioritaskan selain aqidah, selain iman, selain ibadah-ibadah wajib adalah ADAB. Inilah metode para ulama kita yang dikatakan Imam Ibnu Mubarok, “Dulu para ulama kita, belajar adab sebelum ilmu. Sebagian yang lain, mereka belajar adab di waktu di mana mereka belajar ilmu.” Adab itu penting karena adablah yang akan mendewasakan kita. Itu yang akan membuat ilmu dan amal kita berjalan paralel. Itu yang membuat kita tidak hanya menjadi orang pintar tapi juga orang yang bertaqwa kepada Allah. Orang yang dewasa dan itu akan meneduhkan kondisi dan situasi. Itu akan membuat permasalahan clear dengan sendirinya. Contohnya dialog dari 2 ulama besar dari 2 madzhab yang berbeda, antara Ibnu Hazm dengan Ibnu Walid Albaji. Pembahasannya selalu sengit. Tapi di setiap akhir pembahasan diakhiri dengan permintaan maaf dan ketawadhu’an.

 

 **Disimak dari youtube Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.


You Might Also Like

0 Comments