CHAPTER #2: ILMU & ADAB

October 23, 2020


Catatan Kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.
Kitab Tadzkiratus Saami Wal Mutakaliim Fii Adabil'Alim Wal Muta'alim, karya Ibnul Jama'ah.

Bismillahirrahmanirrahim....

Para Ulama memiliki semangat juang yang tinggi, belajar bertahap dan bangun pondasi. Bagaimana Anda bisa bertahan jika Anda tidak tahu ilmunya. Di fase-fase awal mereka belajar adab.... Imam Ibnu Mubarak berkata, "Belajar adab sebelum ilmu." Adab harus dikedepankan, seperti halnya ilmu lain secara paralel seperti aqidah dan ibadah harian yang harus dilakukan. Barang siapa yang pondasinya tidak kuat maka ia tidak akan sampai kepada tujuan. Ketika kita ingin belajar adab, buku yang direkomendasikan para ulama adalah buku Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim Fii Adabil’Alim Wal Muta’alim karya Al Imam Ibnul Jama’ah. Buku ini sudah terbukti mencetak generasi, atas izin Allah telah megubah adab jutaan orang.


Mengenal Penulis

Beliau adalah Ulama yang bernama Muhammad bin Ibrohim bin Sa’dillah bin Jama’ah, salah satu ulama bermazhab Syafi’i. Penulis buku ini adalah seorang Syaikhul Islam, saking alimnya. Syekhnya islam, karena menguasi berbagai macam disiplin ilmu. Dan yang menobatkan Syaikhul islam ini adalah Al-imam Ibnu Katsir. Di antara murid beliau yang terkenal adalah Imam Adz-Dzhabi. Imam Adz-Dzahabi menceritakan tentang gurunya ini, “Guruku Imam Ibnul Jama’ah adalah sosok orang yang punya peran atau andil yang sangat baik dalam berbagai macam ilmu keislaman, disamping itu agamanya bagus, rajin ibadah, ilmunya tajam & kuat.” Beliau menjadi qodi syar’i (hakim) 3 wilayah besar. Imam Subqi mengatakan, “Beliau pakar hadist dan di waktu bersamaan beliau juga pakar fikih, akalnya cerdas luar biasa.”

Ketika kita hidup di zaman fitnah seperti sekarang ini, kita harus memastikan referensi yang kita pelajari itu referensi yang benar, yang bukan main-main. Beliau adalah ulama papan atas dunia. Bagi orang yang mau belajar, begitu mendengar penjelasan beliau di buku ini jadinya tenang. Salah satu ulama yang menyukai fatwa-fatwa Imam Ibnul Jama’ah adalah Imam An-Nawawi. 

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 111, “Tunjukkan burhan kalian, data kalian, referensi kalian, kalau kalian memang benar.” Agama kita adalah agama referensi. Ini yang perlu kita camkan bersama-sama. Beliau punya beberapa buku, salah satunya buku Tadzkiratus Sami’ yang direkomendasikan oleh banyak ulama. Semua harus ada kurikulumnya. Dan belajarlah dari kurikulumnya para ulama, yang telah terbukti berhasil memperbaiki adab orang, akhlak, hubungan dengan Allah.

Berkata Al-Imam Ibnu Jama'ah rahimahullah, "Dan dengan-Nyalah aku diberi taufik untuk menyelesaikan buku ini." Ketika para ulama menulis buku, maka mereka mengawali dengan kata Bismillahirrahmanirrahim. apa makna di balik itu, yang pertama karena mengikuti Allah swt. Ketika Allah mengawali setiap surat di dalam al-Qur'an dengan bismillahirrahmanirrahim, kecuali surat At-Taubah. dan ini juga mengikuti metode Nabi ketika menulis surat, beliau memulai dengan bismillairrahmanirrahim. Jadi, para ulama dalam menulis buku saja, ittiba kepada Allah dan Rasulnya. Jadi semangat mengikuti itu besar. Semangat untuk mengamalkan apa yang Allah terapkan dan Nabi terapkan itu luar biasa. 

Alasan yang kedua mereka memulai karya mereka dengan bismillah, karena mereka bertawakal dan istianah kepada Allah, karena mereka benar-benar bergantung kepada Allah. Jadi dikit-dikit minta tolong kepada Allah. Karena bismillah adalah simbol minta tolong kepada Allah. Ketika kita membaca bismillah, apa makna bi dalam basmalah? Makna bi adalah ba istianah, permintaan tolong kepada Allah. makna kedua minta berkah kepada Allah swt. Jadi maknanya adalah aku meminta pertolongan kepada Allah dalam penulisan bukuku dengan menyebut Nama-Nya Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Aku minta berkahnya Allah, agar dilancarkan. Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dihasankan oleh Ibnu Sholah dan Syekh Bin Baz, "Setiap hal/kegiatan positif, yang tidak dimulai dengan bismillah maka terputus dari keberkahan." 

Basmalah yang dijadikan pembukaan oleh Al-imam Ibnu Jama'ah, menunjukkan kepada kita bahwa prinsip para ulama dalam dunia ilmu adalah tawakal kepada Allah. Meminta pertolongan kepada Allah, dan mengembalikan segala urusan hanya kepada Allah. Kalau antum ingin masuk ke dunia ilmu, inilah prinsip yang harus antum miliki, jangan bosan-bosan bertawakal kepada Allah. Dan ini terlihat dari berbagai macam tindak tanduk para Ulama. Terlihat dari sikap-sikap mereka. Caranya mereka memulai buku-buku mereka dengan bismillah. Dan bismillah artinya meminta pertolongan dan keberkahan kepada Allah. Jadi walaupun mereka cerdas-cerdas, Al-imam Jama'ah di usia muda sudah jadi hakim syar'i tapi beliau tidak mengandalkan kecerdasan beliau ketika menulis buku ini. Yang beliau andalkan adalah kekuatan Allah, ilmu Allah, makanya beliau mulai dengan bismillahirrahmanirrahim. 

Banyak para ulama menamai buku-buku mereka dengan prinsip ini. Prinsip tawakal, prinsip istianah. Dan banyak contoh tentang hal ini. Al-imam Ibnu Rajab ketika mensyarah hadist Al-Imam Bukhari apa yang beliau berikan judul buku beliau, Fathul Baari. Apa arti Fathul Baari? Fath itu pembuka, Baari salah satu nama Allah. Itu ada filosofinya, artinya saya tidak akan bisa menulis syarah Imam Bukhari kecuali dibuka oleh Al-Baari. Dari judul buku saja sudah melambangkan ketawakalan/ketergantungan seseorang kepada Allah. Diantara mereka ada yang istikharah dalam mencantumkan hadist, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Al-Bukhari. Jadi bisa dibayangkan untuk satu buku butuh ribuan istikharah. Khawatir jika hanya mengandalkan kecerdasan, bisa salah. Meminta pandangan dan tuntunan dari Allah.

Antum, saya, sudah berapa kali istikharah? Mungkin hanya 1 kali pas married, :D nikah sekali, jadi istikharahnya cuma sekali sumur hidup. Makanya hidup kita kurang berkah dibanding para ulama. Bicara ilmu bicara ketergantungan sama Allah bukan ketergantungan dengan makhluk, bukan ketergantungan dengan manusia. Nabi kalau ada masalah, sholat 2 raka'at. Samakah antara seseorang yang meminta pertolongan kepada Khalik dengan meminta pertolongan kepada makhluk? Beda.... Karena akal itu makhluk. Ketika ada masalah daya analisa, ingatnya pengalaman, logika, berarti anda menyelesaikan masalah anda dengan makhluk. Beda dengan orang yang ketika ada masalah dia istikharah, ada masalah dia do'a, ada masalah sholat 2 rakaat. Nabi juga demikan, karena Beliau tidak mau meminta pertolongan kepada makhluk sebelum beliau meminta kepada Allah. Inilah yang membedakan.... Kita ini lemah, kita butuh pertolongan Allah. Hidup mereka ketergantungan, kepada Rabbul alamiin.... 


 **Disimak dari youtube Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.


You Might Also Like

0 Comments