CHAPTER #3: DI BALIK AKHLAK PARA ULAMA

October 24, 2020

 


Catatan Kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.
Kitab Tadzkiratus Saami Wal Mutakaliim Fii Adabil'Alim Wal Muta'alim, karya Ibnul Jama'ah.


Bismillahirrahmanirrahim....

Setelah beliau mengucapkan basmalah, beliau mengucapkan sholawat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi nggak butuh sholawat kita, tapi kita yang merasakan nikmatnya sunnah beliau, kita akhirnya tau jalan menuju surga melalui ajaran beliau, kita yang berhasil mengubah perangai kita, akhlak kita karena araha-arahan beliau setelah taufik dari Allah. Jadi, tunaikan hak beliau, salah satunya adalah dengan bersholawat. Dan mengucapkan salam kepada beliau.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sholawat bagi kita adalah rahmat. sebagaimana yang dibawakan oleh Ibnu Hafid Ibnu Hajar dalam Fathul Baari. Jadi mendapatkan rahmat dari Allah. Sebagian ulama  lain juga mengatakan, disebutkan juga di depan malaikat. Jadi barang siapa bersholawat kepadaku 1 kali, Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali. Maksudnya Allah akan kasih rahmat, bahkan juga disebut di depan malaikat-malakatnya, jadi masa kita nggak terinspirasi. Makanya para ulama itu bersholawat karena ingin buku-bukunya dirahmati sama Allah. 

Nuansa muqodimahnya sudah nuansa iman, nuansa ketawakallan, nuansa taqarrub kepada Allah subhanahuwa ta'ala. Bukan nuansa menonjolkan diri seorang penulis. Bukan nuansa memamerkan prestasi penulis, memperlihatkan background penulis. Basmalah lalu bersholawat, beradab karena berharap mendapatkan 10 sholawat dari Allah, mendapatkan 10 rahmat dari Allah. Berharap 10 derajat dan berharap 10 dosanya diampuni oleh Allah. Derajat di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Jadi saat menulis buku, berharap dosa-dosanya diampuni oleh Allah. Bukan semoga buku saya best seller, mau launching di mana, dikasih tanda tangan, enggak.... Makanya berabad-abad ini buku, dan buku-buku lainnya, berkah. Bukan dirinya yang diangkat, tapi Allah yang dipuji, dipuja dan diharapkan. 

Jadi setelah basmalah, sholawat dan salam, lalu yang ketiga adalah bersyukur sama Allah. Segala puji bagi Allah.... Ini konsep para ulama. Imam Abu Hanifah pernah menjelaskan apa kunci beliau bisa mendapatkan ilmu yang amat luas, "Sesungguhnya aku mendapatkan ilmu seperti ini kuncinya adalah memuji Allah." 

Yang tidak mau sholawat itu orang yang pelit. Bukan pelit ke nabi tapi ke dirinya sendiri, karena nggak mau 10 kebaikan. Walau nabi nggak butuh tapi ini terkait adab...

Memuji Allah dan bersyukur kepada Allah. Setiap aku memahami sebuah perkara/ayat/hadist, atau aku mengerti fikih tentang masalah tersebut maka aku selalu mengucapkan Alhamdulillah. Itu ternyata ilmuku bertambah. Dan nggak heran karena Allah yang menjanjikan, siapa yang bersyukur maka akan Aku tambah. 

Allah yang menyuruh kita bersyukur, bergembira & berbahagia ketika mendapatkan ilmu. Allah berfirman dalam surat Yunus:58 : "Wahai Muhammad katakanlah kepada hamba-hambaku, mereka harus gembira, ketika mendapatkan karunia dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta'ala." Karunia dalam ayat ini adalah iman, dan rahmat dalam ayat ini adalah Al-Qur'an. Kenapa kita disuruh bergembira? Karena iman & Al-Qur'an yang mereka dapatkan itu lebih berharga, lebih bernilai/mahal dari seluruh harta yang mereka kumpulkan.

1 ayat gembira nggak? Kalau para ulama, langsung bersyukur, langsung berucap Alhamdulillah, makanya Allah berikan mereka karunia di atas karunia. Kunci mendapat tambahan ilmu dan keberkahan ilmu yang lain adalah banyak bersyukur & memuji Allah swt. Jadi Imam Ibnu Jam'ah mengajarkan kepada kita untuk bertawakal, untuk bersholawat agar kita mendapat rahmat & dosa-dosa kita diampuni oleh Allah. Lalu perbanyak syukur kepada Allah. Kemudian beliau memulai buku beliau tersebut.

Penulis mengatakan dan diantara hal yang harus diprioritaskan oleh pemilik akal sehat khususnya di waktu muda & untuk mendapatkannya sangat layak untuk capek, letih, lelah, yaitu adab yang baik yang direkomendasikan syariat. Semua orang memuji adab yang mulia. Jadi adab harus diprioritaskan apalagi ketika masih muda. Orang yang paling berhak & layak adalah ahli ilmu. Ahmad bin Salabah berkata, "Wajib bagi penuntut ilmu untuk menjadi orang yang adabnya paling sempurna. Paling rendah hati & tawadhu. Paling semangat ibadahnya. Dan yang paling jarang labil & marah." Dia akan punya prinsip, karakter, walaupun masih muda. Nggak ingin show, nggak ingin tampil.

Zaman dulu ulama belajar, beberapa bulan langsung kelihatan perubahannya sikapnya, lisannya. Lebih khusyuk, tenang, ga labil, matang, lebih dewasa. Kalau ikhlas... Anak muda kalau belajar agama akan lebih dewasa dari usianya. Karena yang dicopy paste Rasulullah.

Jangan ngaku-ngaku mengikuti shalafussholeh, mengikuti sahabat, tabi'in. Tabiin begini metodenya karena mereka belajar untuk memperbaiki diri. Mereka belajar bukan keren-kerenan bukan banyak-banyakan jam'ah. Bukan untuk  nyerang A, nyerang B, nyerang C. Pertanyaannya kok bisa, apa perubahan di balik akhlak mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama bisa berubah? Paling sedikit galaunya, paling sedikit marah. Apa penyebabnya? Kata Ibnu Jam'ah, kuncinya adalah Karena ilmu mereka tentang akhlak Rasulullah beserta adab-adab beliau. Dan ilmu mereka terhadap perjalanan hidup para imam, ulama, ahli bait nabi, dari sahabat-sahabat beliau. Karena mereka senantiasa mendengar betapa baiknya Rasulullah dan adab-adab beliau dan dari siroh ulama terdahulu. 

Yang di dengar penuntut ilmu setiap harinya adalah Al-Qur'an, hadist-hadist, kisah-kisah heroik para sahabat, tanpa sadar orang akan terpengaruh. Tanpa mau berubah, berubah dia. Seseorang akan terpengaruh dengan apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar. Asal ikhlas. Kalau udah rajin datang kajian tapi bahasanya masih kasar, suka ngebully, kok nggak ada efeknya. Padahal yang dipelajari itu tafsir, hadist..

Ibnu abbas, Mujahid itu mengatakan "Allah itu Yang Maha Malu, saking malunya suka ngasih bahasa-bahasa kiasan." Bahasa Qur'an itu bahasa tingkat tinggi. Misal mendeskripsikan hubungan suami istri dalam Al-Qur'an, tidak ada yang risih. Karena tinggi, lembut & santunnya bahasa Al-Qur'an. ex: Al-Baqarah: 178. Ini bermakna fisik, tapi bahasanya nyaman. Dan ayat lainnya yang berkaitan. Nggak ada sensor, ini ayat untuk 17 tahun ke atas :D nggak ada.. Atau Syeikh Sudais lagi baca ayat trus diloncatin, karena ada anak atau cucunya ikut sholat :D

Ini bertahun-tahun kajian tapi nggak berubah-ubah.  Berarti ada yang salah dengan diri kita. Masih suka kasar, masih suka ghibah. Kalau setiap di pengajian benar-benar hadist nabi, tapi kenapa akhlaknya nggak berubah? 

Hadist Nabi, "Air itu karena air." Maknanya air yang pertama itu air untuk janabah, air kedua air mani. Itu bahasa Nabi, tinggi banget. Nggak ada nuansa pornografi. Untuk memahami ini perlu ustadz yang bisa mensyarah. Jadi kalau orang ngajinya bener, niatnya memang berubah, berubah tuh. Nabi begini berarti harus begini. Akhlaknya bagus-bagus, karena yang mereka denger firman Allah, hadist Nabi, siroh-siroh para ulama. Jadi ya harus berubah. Kalau nggak berubah berarti ada frekuensi ngaji kita kurang, karena ini butuh istiqomah, atau niatnya bermasalah, atau kontennya yang kurang tepat. Maka ini jadi bahan instrospeksi diri.

Pertemanan kan ngaruh. Kalau mau berubah, gaulnya sama firman Allah, sama hadist Nabi. Kebawa in syaa Allah. Di balik itu semua ada interaksi dengan Rasulullah.


**Disimak dari youtube Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

You Might Also Like

0 Comments